Senin, 02 Januari 2012

Ayahku Nomor 1 di Dunia



Genap 3 tahun umurku  saat ini. Sambil memangkuku, ayahku bertanya kepadaku, “adek, kalau sudah besar mau jadi apa?” Jawabanku saat itu, “aku mau seperti ayah.” Mendengar itu, dia hanya mengusap kepalaku dan tersenyum. Kemudian aku digendongnya.

***

5 tahun telah berlalu. Sore ini aku bermain basket sendirian. Tak lama kemudian ayah datang dan menemaniku bermain. Ia mengajarkanku cara melempar bola. Bangganya aku. Ternyata ayahku sangat pintar bermain basket. Hari semakin gelap. Azan maghrib segera berkumandang, kami pun beranjak pulang.

“Yah, besok sore kita bisa bermain bersama lagi, kan?” tanyaku dengan penuh harap.

“Besok ayah kerja lembur. Kamu bermain saja dengan teman-temanmu.” Jawabnya yang masih mengenakan seragam kerja.

“Oke!” ucapku dengan penuh semangat.

Suatu hari nanti aku pasti bisa sepertimu.

***

Ayahku telah pensiun dari pekerjaannya. Aku pun telah menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Pagi tadi ayah menelponku.
 
“Assalamu’alaikum, gimana kabarmu, nak?” tanya ayah.

“Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah aku baik-baik saja yah,” jawabku.

“Kapan kalian bisa berkunjung ke sini?” tanyanya lagi.

“Belum tau, yah. Aku juga berharap bisa ke sana. Tapi saat ini Rifki sedang sakit. Aku tidak bisa meninggalkanya.”

“Yasudah, urus saja anakmu dulu. Semoga Rifki cepat sembuh ya. Oiya, kau tau? sekarang kau telah tumbuh menjadi seperti ayah. Dan ayah bangga padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar