Hiruk-pikuk dan tangis haru menyelimuti rumah kediaman Bapak Surandi. Bendera kuning nampak jelas berkibar di depan rumahnya. Anak sulungnya telah meninggal dunia dan pagi ini mayatnya baru tiba di rumah.
Andi, seorang mahasiswa Universitas Sriwijaya
ditemukan tewas mengenaskan di kamar kosannya. Polisi menyatakan kalau Andi
meninggal bunuh diri karena terlihat sebuah botol berisikan racun serangga
berada disamping mayatnya.
***
“Bu, alhamdulilah IP Andi naik dari 2,89 menjadi 3,15.” Dengan penuh semangat
ku laporkan nilaiku semester ini.
“Alhamdulillah. Tingkatkan lagi ya, Nak. Biar bisa dapat
beasiswa.” Jawab ibu terdengar halus.
“Maaf Bu. Liburan semester ini Andi
masih belum bisa pulang ke Bandung. Andi dipilih menjadi ketua pelaksana
pergelaran seni di kampus.” Tak terasa air mataku mengalir begitu derasnya.
Sudah 2 tahun aku tidak
melihat wajah ibu.
Aku tak tahu bagaimana kondisinya sekarang.
“Andi, ini bapak mau bicara.”
“Assalamu’alaikum.” Sapa bapak dengan lantang.
“Wa’alaikumsalam. Iya, Pak.” Jawabku.
“Kok IP kamu masih kecil saja. Budi
saja IP-nya diatas 3,5. Masa kamu cuma 3,15.” Aku tercengang mendengarnya.
Ya, selalu begitu. Tiap akhir
semester nilaiku pasti dibanding-bandingkan dengan Budi, anak dari pamanku. Dia hidup dari keluarga yang serba berkecukupan.
Apapun yang dia minta, pasti langsung diberi. Sayangnya,
ia selalu menghambur-hamburkan uang. 2 tahun lalu ia tidak lulus SNMPTN. Dan
kini ia kuliah di sebuah STIE berakreditasi B di Bogor.
“Andi itu sudah berusaha semaksimal
mungkin. Seharusnya Bapak bersyukur nilai Andi masih bisa naik. Kenapa sih Andi
musti dibanding-bandingkan
dengan si Budi. Andi sama
Budi itu beda,
Pak! Negeri dengan swasta beda. Di sini dapat nilai A saja susah. Lagipula Budi
kan anak orang kaya. Uang jajannya saja bisa sampai lima puluh ribu satu hari. Gak
kayak Andi yang musti sering-sering puasa demi bisa ngetik tugas di warnet!”
Emosiku mulai naik. Ku sudah tak tahan lagi diperlakukan seperti ini.
“Kamu dikasih tahu orang
tua malah melawan. Sudah dibilang gak usah ikut-ikutan organisasi masih
ikut-ikutan. Kalau ikut
organisasi menghasilkan
duit sih gak apa-apa.
Ini
malah kamu yang sering mengeluarkan
duit.
Itulah akibatnya
kalau dinasehati orang tua melawan
terus!” Lanjutnya dengan nada yang lebih keras.
“Yasudah,
yang penting Andi sudah berusaha semampunya. Terserah mau percaya atau nggak.
Andi mau ikut organisasi atau nggak itu bukan urusan Bapak” Jawabku semakin
lantang.
“Pokoknya
Bapak gak mau tahu.
Semester besok nilai kamu musti naik. Kalau nggak kamu harus berhenti dari
organisasi!”
“Oke.
Siapa takut. Lihat saja nilai Andi nanti. Assalamu’alaikum.”
Kuterima tantangan itu dan langsung kututup teleponnya.
Kakak, andai saja engkau bisa selamat dari
proses persalinan ibu, aku tak perlu menjadi anak pertama. Kau bisa lihat
sendiri bagaimana perlakuan Bapak kepadaku. Semuanya ingin serba sempurna. Aku
hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Kak, suatu saat nanti aku
ingin melihat wajahmu di surga.
***
Semenjak
kejadian itu pikiranku semakin kacau. Saat aku sedang semangat-semangatnya
berorganisai, ujian yang baru datang. Amanah semakin banyak dan tugas-tugas kuliah pun
semakin menumpuk. Akhirnya aku mencoba mengatur semua agenda harianku. Berharap
semua kegiatan bisa terlaksana sesuai rencana.
Malam
ini ku-sms
semua panitia pelaksana pergelaran seni untuk hadir dalam rapat besok pagi.
Kutunggu konfirmasi dari mereka tetapi tak satupun yang membalas. Aku hanya
bisa berfikir positif. Mungkin saja mereka sedang tidak ada pulsa.
***
Pagi ini kuusahakan datang
sebelum rapat dimulai. 30 menit telah berlalu, baru ada dua panitia yang datang.
Kutanya keberadaan yang lainnya kepada mereka,
mereka juga tidak tahu.
Tak lama kemudian hp-ku berdering.
Satu per satu sms datang dari
beberapa panitia.
“Maaf,
saya tidak bisa hadir pagi ini. Kalau siang saya baru bisa.”
“Rapatnya
sudah dimulai belum? Maaf, saya mungkin telat datangnya.”
“Andi
dimana sekarang? Rapatnya bisa diganti siang gak?”
...
Kutarik nafasku panjang.
Emosiku sedikit bergejolak. Hmm... Kenapa
begitu banyak terdengar kata maaf? Yasudahlah, lupakan saja. Sekali lagi aku hanya bisa
berbaik sangka.
Akhirnya kuputuskan untuk mengadakan rapat siang
ini. Pagi ini aku sudah mengorbankan kuliahku. Dan siang
ini pun aku ada kuliah, tetapi
apa boleh buat. Demi acara bisa terlaksana dengan baik, kukorbankan kuliahku.
***
Hari ini begitu melelahkan. Alhamdulillah, acara pergelaran seni
bisa berjalan dengan baik. Aku pun
melangkah pulang. Sesampainya di
tempat kos aku terkejut. Banyak sampah berserakan di lantai. Kutengok teman-teman satu
kosanku. Ternyata mereka sedang asyik bermain dengan laptopnya.
Ya Allah, kenapa Engkau berikan aku rasa
peduli ini. Kuambil sapu yang bergeletak di lantai dan langsung kubersihkan
semua sampah yang berserakan. Setelah semuanya bersih dan rapi, aku masuk ke
kamar dan merebahkan tubuh ke kasur yang sudah tidak empuk lagi.
***
Tidak
terasa uang tabunganku sudah hampir habis. Banyak tugas yang harus diketik.
Hanya ada dua pilihanku,
meminjam uang untuk mengetik tugas di warnet atau meminjam laptop teman yang
sedang tidak dipakai.
Keesokan
paginya kucoba untuk meminjam laptop dari beberapa teman. Tetapi semuanya
sedang sibuk mengerjakan tugas sehingga laptop mereka tidak bisa dipinjamkan
kepadaku.
Setelah pencarian yang cukup lama, akhirnya
aku pun mendapatkan pinjaman laptop. Tetapi waktu yang diberikan hanya semalam
saja. Dengan sangat terpaksa, malam ini aku tidak tidur. Waktuku kukorbankan
untuk menyelesaikan tugas yang sudah menumpuk selama berminggu-minggu.
***
Hari
ini kuliahku sangat padat. Akibat begadang semalam, baru 2 jam kuliah saja
mataku sudah terasa berat. Akhirnya setelah sholat dzuhur kuputuskan untuk
istirahat sejenak. Tidak terasa aku tertidur di musholla.
“Astaghfirullah!” Aku terkejut saat
melihat jam di hp-ku menunjukkan
pukul 15.30. Adzan ashar terdengar nyaring ditelinga. Ya Allah, hari ini aku bolos kuliah.
Semuanya pun menjadi tak terkendali. Banyak pelajaran
yang terlewatkan karena sering tertidur di kelas. Konsentrasi semakin buyar.
Nilaiku semakin menurun. Amanah pun ikut terabaikan.
Seperti biasa, sesampainya di kosan kubersihkan
semua sampah yang berserakan. Kupandangi sampah-sampah itu dan sesuatu hal
terpikirkan olehku.
Hey!
Kenapa jadi kebiaasaan. Aku bukanlah seorang pembantu. Kenapa musti peduli
dengan
sampah-sampah mereka. Dasar orang kaya! Setiap hari kerjanya cuma main laptop saja. Sial!
Mentang-mentang punya duit banyak. Bertindak semaunya saja.
“Braak!” Kubanting sapu dalam
genggamanku dengan keras. Sampah-sampah yang masih berserakan kubiarkan begitu
saja. Aku masuk ke kamar dalam keadaan kesal. Beberapa menit kemudian sms dari ibu datang.
“Assalamualaikum. Gimana kabarmu, nak? Belajar yang bener
ya, nak. Semoga IP semester ini bisa naik
lagi. Di sini ibu selalu berdoa semoga anak-anak ibu
sukses.” Aku hanya bisa menangis mengingat nilai-nilaiku yang hancur
berantakan.
***
Kumerasa
bersalah kepada ibu. Kuberanikan diri untuk melaporkan semua nilai-nilaiku yang
menurun melalui sms. Tak lama
kemudian, Bapak menelponku.
“Kenapa
nilaimu jadi hancur? Ngapain saja
kamu di kosan?!” Tanya Bapak dengan suara keras.
“Nilai-nilai
Andi turun karena banyak tugas yang tertunda” Jawabku dengan halus.
“Alasan! Kalau sudah gak
mau kuliah lagi bilang sama Bapak. Bapak itu capek setiap hari ke kebon,
Membiayai kuliah kamu, adik-adik kamu. Kamu malah menghabis-habiskan duit saja!” lanjutnya semakin tegas.
“Yasudah
kalau Bapak gak percaya. Andi juga sudah malas
punya orang tua yang gak pernah percaya dengan anaknya. Biar Bapak tahu, hampir
semua tugas minta diketik di komputer. Andi malah gak tidur cuma demi bisa dapat pinjaman laptop biar
tugasnya selesai. Sampai-sampai Andi ketiduran di
kelas karena banyak begadang.” Jawabku dengan kasar.
“Alasan! Yang lain banyak
yang gak punya laptop tapi kok bisa. Kamu itu Cuma kebanyakan main!”
”Yang lain mana? Bapak jangan sok
tahu! Yasudahlah kalau gak percaya. Andi sudah malas berbicara dengan
Bapak!” Emosiku memuncak dan tak terkendalikan lagi. Telepon genggamku langsung
kunon-aktifkan seketika. Aku hanya bisa menangis meratapi derita hidup yang
semakin pahit.
Ya
Allah, aku sudah gak kuat lagi menahan ujian dari-Mu. Ampunilah segala dosaku.
Pikiranku sudah suram. Kupandangi
sebuah botol racun serangga yang ada di
pojok kamarku kemudian kubuka penutupnya. Kuambil secarik
kertas lalu kutulis apa yang ada di pikiranku.
“Sometimes solutions aren’t so simple. Sometimes good bye is the
only way. I’m just
a loser.”
Kakak, aku menyusulmu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar