Selasa, 03 Januari 2012

Andai Mawar Tidak Berduri


        Hiruk-pikuk dan tangis haru menyelimuti rumah kediaman Bapak Surandi. Bendera kuning nampak jelas berkibar di depan rumahnya. Anak sulungnya telah meninggal dunia dan pagi ini mayatnya baru tiba di rumah.
Andi, seorang mahasiswa Universitas Sriwijaya ditemukan tewas mengenaskan di kamar kosannya. Polisi menyatakan kalau Andi meninggal bunuh diri karena terlihat sebuah botol berisikan racun serangga berada disamping mayatnya.
***
“Bu, alhamdulilah IP Andi naik dari 2,89 menjadi 3,15.” Dengan penuh semangat ku laporkan nilaiku semester ini.
“Alhamdulillah. Tingkatkan lagi ya, Nak. Biar bisa dapat beasiswa.” Jawab ibu terdengar halus.
“Maaf Bu. Liburan semester ini Andi masih belum bisa pulang ke Bandung. Andi dipilih menjadi ketua pelaksana pergelaran seni di kampus.” Tak terasa air mataku mengalir begitu derasnya. Sudah 2 tahun aku tidak melihat wajah ibu. Aku tak tahu bagaimana kondisinya sekarang.
“Andi, ini bapak mau bicara.”
Assalamu’alaikum.” Sapa bapak dengan lantang.
Wa’alaikumsalam. Iya, Pak.” Jawabku.
“Kok IP kamu masih kecil saja. Budi saja IP-nya diatas 3,5. Masa kamu cuma 3,15.” Aku tercengang mendengarnya.
Ya, selalu begitu. Tiap akhir semester nilaiku pasti dibanding-bandingkan dengan Budi, anak dari pamanku. Dia hidup dari keluarga yang serba berkecukupan. Apapun yang dia minta, pasti langsung diberi. Sayangnya, ia selalu menghambur-hamburkan uang. 2 tahun lalu ia tidak lulus SNMPTN. Dan kini ia kuliah di sebuah STIE berakreditasi B di Bogor.
“Andi itu sudah berusaha semaksimal mungkin. Seharusnya Bapak bersyukur nilai Andi masih bisa naik. Kenapa sih Andi musti dibanding-bandingkan dengan si Budi. Andi sama Budi itu beda, Pak! Negeri dengan swasta beda. Di sini dapat nilai A saja susah. Lagipula Budi kan anak orang kaya. Uang jajannya saja bisa sampai lima puluh ribu satu hari. Gak kayak Andi yang musti sering-sering puasa demi bisa ngetik tugas di warnet!” Emosiku mulai naik. Ku sudah tak tahan lagi diperlakukan seperti ini.
           “Kamu dikasih tahu orang tua malah melawan. Sudah dibilang gak usah ikut-ikutan organisasi  masih  ikut-ikutan.  Kalau  ikut  organisasi  menghasilkan duit sih gak apa-apa.  Ini  malah kamu yang   sering   mengeluarkan   duit.   Itulah   akibatnya   kalau   dinasehati   orang tua melawan terus!” Lanjutnya dengan nada yang lebih keras.
           “Yasudah, yang penting Andi sudah berusaha semampunya. Terserah mau percaya atau nggak. Andi mau ikut organisasi atau nggak itu bukan urusan Bapak” Jawabku semakin lantang.
         “Pokoknya Bapak gak mau tahu. Semester besok nilai kamu musti naik. Kalau nggak kamu harus berhenti dari organisasi!”
           “Oke. Siapa takut. Lihat saja nilai Andi nanti. Assalamu’alaikum.” Kuterima tantangan itu dan langsung kututup teleponnya.
            Kakak, andai saja engkau bisa selamat dari proses persalinan ibu, aku tak perlu menjadi anak pertama. Kau bisa lihat sendiri bagaimana perlakuan Bapak kepadaku. Semuanya ingin serba sempurna. Aku hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Kak, suatu saat nanti aku ingin melihat wajahmu di surga.
***
            Semenjak kejadian itu pikiranku semakin kacau. Saat aku sedang semangat-semangatnya berorganisai, ujian yang baru datang. Amanah semakin banyak dan tugas-tugas kuliah pun semakin menumpuk. Akhirnya aku mencoba mengatur semua agenda harianku. Berharap semua kegiatan bisa terlaksana sesuai rencana.
            Malam ini ku-sms semua panitia pelaksana pergelaran seni untuk hadir dalam rapat besok pagi. Kutunggu konfirmasi dari mereka tetapi tak satupun yang membalas. Aku hanya bisa berfikir positif. Mungkin saja mereka sedang tidak ada pulsa.
***
            Pagi ini kuusahakan datang sebelum rapat dimulai. 30 menit telah berlalu, baru ada dua panitia yang datang. Kutanya keberadaan yang lainnya kepada mereka, mereka juga tidak tahu. Tak lama kemudian hp-ku berdering. Satu per satu sms datang dari beberapa panitia.
            “Maaf, saya tidak bisa hadir pagi ini. Kalau siang saya baru bisa.”
            “Rapatnya sudah dimulai belum? Maaf, saya mungkin telat datangnya.”
            “Andi dimana sekarang? Rapatnya bisa diganti siang gak?”
            ...
Kutarik nafasku panjang. Emosiku sedikit bergejolak. Hmm... Kenapa begitu banyak terdengar  kata maaf?  Yasudahlah,  lupakan saja. Sekali lagi aku hanya bisa berbaik sangka.
Akhirnya  kuputuskan  untuk  mengadakan  rapat  siang ini. Pagi ini aku sudah mengorbankan kuliahku. Dan siang ini pun aku ada kuliah, tetapi apa boleh buat. Demi acara bisa terlaksana dengan baik, kukorbankan kuliahku.
***
          Hari ini begitu melelahkan. Alhamdulillah, acara pergelaran seni bisa berjalan dengan baik.  Aku  pun  melangkah  pulang. Sesampainya di tempat kos aku terkejut. Banyak sampah berserakan di lantai. Kutengok teman-teman satu kosanku. Ternyata mereka sedang asyik bermain dengan laptopnya.
            Ya Allah, kenapa Engkau berikan aku rasa peduli ini. Kuambil sapu yang bergeletak di lantai dan langsung kubersihkan semua sampah yang berserakan. Setelah semuanya bersih dan rapi, aku masuk ke kamar dan merebahkan tubuh ke kasur yang sudah tidak empuk lagi.
***
            Tidak terasa uang tabunganku sudah hampir habis. Banyak tugas yang harus diketik. Hanya ada dua pilihanku, meminjam uang untuk mengetik tugas di warnet atau meminjam laptop teman yang sedang tidak dipakai.
            Keesokan paginya kucoba untuk meminjam laptop dari beberapa teman. Tetapi semuanya sedang sibuk mengerjakan tugas sehingga laptop mereka tidak bisa dipinjamkan kepadaku.
            Setelah pencarian yang cukup lama, akhirnya aku pun mendapatkan pinjaman laptop. Tetapi waktu yang diberikan hanya semalam saja. Dengan sangat terpaksa, malam ini aku tidak tidur. Waktuku kukorbankan untuk menyelesaikan tugas yang sudah menumpuk selama berminggu-minggu.
***
            Hari ini kuliahku sangat padat. Akibat begadang semalam, baru 2 jam kuliah saja mataku sudah terasa berat. Akhirnya setelah sholat dzuhur kuputuskan untuk istirahat sejenak. Tidak terasa aku tertidur di musholla.
            “Astaghfirullah!” Aku terkejut saat melihat jam di hp-ku menunjukkan pukul 15.30. Adzan ashar terdengar nyaring ditelinga. Ya Allah, hari ini aku bolos kuliah.
            Semuanya pun menjadi tak terkendali. Banyak pelajaran yang terlewatkan karena sering tertidur di kelas. Konsentrasi semakin buyar. Nilaiku semakin menurun. Amanah pun ikut terabaikan.
           Seperti biasa, sesampainya di kosan kubersihkan semua sampah yang berserakan. Kupandangi sampah-sampah itu dan sesuatu hal terpikirkan olehku.
Hey! Kenapa jadi kebiaasaan. Aku bukanlah seorang pembantu. Kenapa musti peduli
dengan sampah-sampah mereka. Dasar orang kaya! Setiap hari kerjanya cuma main laptop saja. Sial! Mentang-mentang punya duit banyak. Bertindak semaunya saja.
“Braak!” Kubanting sapu dalam genggamanku dengan keras. Sampah-sampah yang masih berserakan kubiarkan begitu saja. Aku masuk ke kamar dalam keadaan kesal. Beberapa menit kemudian sms dari ibu datang.
            “Assalamualaikum. Gimana kabarmu, nak? Belajar yang bener ya, nak. Semoga IP semester ini bisa naik lagi. Di sini ibu selalu berdoa semoga anak-anak ibu sukses.” Aku hanya bisa menangis mengingat nilai-nilaiku yang hancur berantakan.
***
            Kumerasa bersalah kepada ibu. Kuberanikan diri untuk melaporkan semua nilai-nilaiku yang menurun melalui sms. Tak lama kemudian, Bapak menelponku.
            “Kenapa nilaimu jadi hancur? Ngapain saja kamu di kosan?!” Tanya Bapak dengan suara keras.
            “Nilai-nilai Andi turun karena banyak tugas yang tertunda” Jawabku dengan halus.
            “Alasan! Kalau sudah gak mau kuliah lagi bilang sama Bapak. Bapak itu capek setiap hari ke kebon, Membiayai kuliah kamu, adik-adik kamu. Kamu malah menghabis-habiskan duit saja!” lanjutnya semakin tegas.
            “Yasudah kalau Bapak gak percaya. Andi juga sudah malas punya orang tua yang gak pernah percaya dengan anaknya. Biar Bapak tahu, hampir semua tugas minta diketik di komputer. Andi malah gak tidur cuma demi bisa dapat pinjaman laptop biar tugasnya selesai. Sampai-sampai Andi ketiduran di kelas karena banyak begadang.” Jawabku dengan kasar.
            “Alasan! Yang lain banyak yang gak punya laptop tapi kok bisa. Kamu itu Cuma kebanyakan main!”
”Yang lain mana? Bapak jangan sok tahu! Yasudahlah kalau gak percaya. Andi sudah malas berbicara dengan Bapak!” Emosiku memuncak dan tak terkendalikan lagi. Telepon genggamku langsung kunon-aktifkan seketika. Aku hanya bisa menangis meratapi derita hidup yang semakin pahit.
         Ya Allah, aku sudah gak kuat lagi menahan ujian dari-Mu. Ampunilah segala dosaku. 
         Pikiranku  sudah  suram.  Kupandangi  sebuah botol racun serangga yang ada di pojok kamarku kemudian kubuka penutupnya. Kuambil secarik kertas lalu kutulis apa yang ada di pikiranku.
Sometimes  solutions  aren’t so simple. Sometimes good bye is the only way. I’m just
a loser.”
Kakak, aku menyusulmu...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar