“Don, penerimaan
mahasiswa baru kan dua bulan lagi, gimana kalau
kau saja
yang jadi ketua
panitianya?” Usul Agung kepada
Doni.
“What?! Yang benar saja, Gung. Gak bisa gitu dong! Musti dirapatkan dulu dengan yang lain.”
Balasnya.
“Yang lainnya
tuh
sudah
setuju semua. Kalau ingin
dirapatkan hasilnya sama saja. Kau tulah yang jadi ketuonya.”
Lanjut Agung.
“Hmm...
yang begini nih yang namanya cari ribut.
Nantilah aku
pikir-pikir dulu.” Ujarnya.
“Maaf. Mas, mau
pesen apa?” tanya seorang pelayan kantin yang
datang menghampiri Doni.
“Pesanlah,
Don! Aku yang bayar.” Ucap
Agung pada Doni yang bingung mau makan
apa.
“O..
aku ngerti. Kau mau
suap aku pakai makanan ya,
biar aku mau
jadi ketua
panitia?” terka Doni sambil manggut-manggut.
“Jangan
su’udzon dulu. Duit beasiswa sudah turun. Kau pesanlah!
Aku yang bayar.” Sanggahnya.
“Yang
benar, Gung? Kalau begitu nanti
habis kita
makan antarkan
aku ke Bank. Nge-check duit
beasiswa aku ya.”
***
Pagi
telah menjelang. Jam dinding di kamar Doni menunjukkan pukul 06.15. Suara ibu
penjual burgo sangat jelas terdengar. Setiap pagi ibu Nanik sudah berkeliling
komplek untuk menjual burgo buatannya. Meskipun penghasilannya pas-pasan, bu
Nanik tetap bersyukur bisa membiayai anak-anaknya sekolah.
Kuliah masih 2 jam lagi. Gak ada tugas juga. Hmm... baca novel ah.
Tik tok tik tok.... detik demi detik
telah berlalu. Lembar demi lembar novel pun telah terlewati. Handphone Doni berdering, tertanda pesan
dari Agung.
“Lagi
dimana,
Boy?
Gak
kuliah? Jangan lupa bawa
buku kalkulus aku ya.”
Mata doni langsung tertuju pada jam
di handphone-nya. Waduh! Sudah
jam setengah sembilan. Mana belum
mandi lagi. Dengan segera
ia melempar handphone yang di
genggamnya ke atas tempat tidur dan langsung meraih handuk yang menggantung di
dinding kamarnya.
Kkrrrrr... suara
perutnya ikut menggangu, menambah beban
pikirannya. Jiah! Ni perut ikut-ikutan protes. Gak tau apa aku
lagi buru-buru.
Makan tuh novel! Tiba-tiba
muncul suara dalam pikirannya yang sedang kacau. Seolah-olah meledeknya penuh
tawa.
Aaarrrgggghhhhhhh!!!
***
Hari
ini seluruh panitia P2K (Pekan Pengenalan Kampus) diminta berkumpul di
sekretariat BEM Universitas untuk membahas metode saat penerimaan mahasiswa
baru berlangsung. Doni datang
paling pertama ditemani Agung dan beberapa jajarannya di BEM FMIPA.
“Katonya rapat mulai jam
setengah dua, Sudah
hampir jam dua rapat belum dimulai-mulai
juga.” Agung mulai resah menunggu.
“Sabar,
Gung! Kita masih menunggu
panitia dari FKIP dan FE.” Doni berusaha menenangkan hati Agung.
“Gimana
Indonesia mau maju,
pemudanya
saja
sering ngaret.”
Agung makin geram.
Tak
lama kemudian yang ditunggu-tunggu datang. Pandangan Doni tiba-tiba saja
tersandung saat melihat wanita berjilbab merah jambu datang bersama rombongan
panitia dari Fakultas Ekonomi. Doni terpesona melihat parasnya yang anggun
dengan jilbabnya yang lebar.
Rapat pun
dimulai. Sebelum membahas agenda, rapat diawali dengan perkenalan panitia dari
seluruh fakultas. Dan akhirnya yang dinantikan Doni pun tiba, yaitu perkenalan
panitia dari Fakultas Ekonomi. Tak disangka Doni ternyata yang memulai
perkenanalan adalah si wanita berjilbab merah jambu.
“Sebelumnya, saya
ingin menyampaikan maaf
dari ketua panitia
Fakultas Ekonomi yang berhalangan hadir karena harus kuliah.
Nama saya Cindy, menjabat sebagai sekretaris
panitia.”
Rapat
berlangsung selama dua jam. Dari rapat tersebut diumumkan bahwa penerimaan
mahasiswa baru untuk Fakultas MIPA dan Fakultas Ekonomi dilakukan pada hari yang sama.
Itu membuat Doni semakin senang karena
bisa bertemu lagi
dengan Cindy.
“Gung,
liburan besok aku gak
jadi mudik ke Muara Enim.
Aku mau serius ngurus P2K.”
Ucap Doni kepada Agung sepulangnya dari
rapat P2K.
“Tumben.
Biasonya kalau soal mudik kau yang
paling duluan.” Agung heran dengan ucapan Doni.
“Aku
kan ketua panitia. Masak yang lain sibuk rapat aku malah asyik-asyik mudik ke Muara Enim. P2K tahun ini musti
lebih meriah daripada yang lalu-lalu.” Terangnya.
“Bagus
deh.” Jawab Agung.
***
“Berapa, Mang?” tanya seorang
wanita berjilbab kepada penjaga warnet.
“lima ribu, Dek.” Jawab penjaga
warnet tersebut.
“Cindy?”
tanya Doni pada wanita berjilbab itu yang berdiri di sampingnya. Mendengar
suaranya dia yakin kalau wanita tersebut adalah Cindy.
“Ya.
Ada apa kak?” Jawab wanita itu yang ternyata benar adalah Cindy.
Jantung
Doni berdetak tak karuan. Waktu seakan berjalan sangat lambat. Mukanya memerah.
Baginya ini seperti mimpi, bisa mengobrol langsung
dengan
Cindy.
“O...
gak apa-apa. Habis ngenet ya?” tanyanya lagi.
“Iya,
kak. Kakak sendiri?” Cindy balik bertanya.
“Ini,
lagi nge-print proposal P2K. Oya, gimana dengan persiapan P2K
di Fakultas Ekonomi, sudah siap?”
tanya Doni lagi.
“Insya Allah.” Jawab Cindy sambil
mengorek isi dompetnya.
“Cindy duluan ya
kak. Assalamu’alaikum.” Cindy pun
pergi setelah menyerahkan selembar uang lima ribu rupiah kepada penjaga warnet.
Melihatnya
pergi, Doni merasa sedikit menyesal karena ia tak sempat mengobrol panjang.
Walaupun begitu ia tetap bahagia bisa bertatap
muka dengannya.
Semenjak
pertemuan singkat itu, hati Doni semakin berbunga-bunga. Tak jarang ia menyanyikan
lagu cinta di kamarnya. Lagu favoritnya Another day in paradise buah karya Phil Collins tidak pernah
absen dari kuping tetangganya. Sudah kayak minum obat, itu lagu dinyanyikannya
tiga kali sehari.
oh, think twice
it’s just another day for you and me
in paradise
oh, think twice
it’s just another day for you, you
and me in paradise
***
Kampus
nampak hening dari biasanya. Tidak sedikit kantin yang tutup. Angkutan kampus
pun hanya segelintir
yang hilir mudik. Ya, namanya juga lagi masa liburan. Hanya mahasiswa yang mau
ikut kuliah semester pendek saja yang masih aktif di kampus. Terkecuali para
panitia P2K yang sibuk memikirkan mahasiswa baru.
“Gung,
sabtu besok mau gak
temani aku ke masjid Agung
pesan spanduk?” tanya Doni berharap Agung mau mengantar dengan motornya.
“Sorry, Don. Sabtu besok aku mau servis motorku di
bengkel. Kau ajak saja
si Agus.” Jawab Agung dengan nada kecewa.
Hmm... si Agus kan gak punya motor. Maksud aku
kan biar irit kalau
naik motor sama
kau,
Gung.
“Yasudahlah
kalau begitu.” Ucapnya
dengan lapang dada.
Siang
ini Doni ingin pergi ke Palembang. Agar lebih hemat, kali ini dia memilih naik
kereta kampus. Bis kampus yang menuju stasiun sudah penuh. Karena ini adalah
bis terakhir ke stasiun, dia terpaksa berdiri di pintu bis. Setibanya di
stasiun kampus, seluruh penumpang berebut kursi kereta. Doni pun tidak mau
ketinggalan.
Setelah
perjalanan yang cukup lama, akhirnya kereta pun sampai di stasiun Kertapati.
Keluarnya dari gerbong, tak sengaja Doni melihat Cindy bersama keluarganya. Tak
seberapa lama, seorang lelaki datang memberikan ice cream kepada Cindy. Doni tersentak saat melihat Cindy menyuapi ice cream-nya pada lelaki itu. Akan tetapi Doni tak
menghiraukannya. Dia beranggapan bahwa lelaki itu adalah kakaknya Cindy, karena
saat itu dia sedang bersama keluarganya.
***
Sepertinya
aku salah pilih
bis lagi. Doni mulai resah saat bis
tersebut menyalakan music. Seperti layaknya sebuah
diskotik, bis yang dinaikinya memutar musik ajep-ajep.
Lagu yang diputar beraliran dangdut koplo yang sangat Doni benci. Tetapi
apa boleh buat. Sudah hampir setengah perjalanan yang telah dilalui. Ongkos pun
sudah dibayar. Doni pasrah menerima nasibnya.
Spanduk
telah dipesan. Doni kembali menghitung sisa uangnya. Yah, gak ada
uang pas. Terpaksa deh musti jajan dulu. Banyak
bis kota di palembang sering melebihkan ongkos penumpang saat para penumpang tidak
membayar dengan uang pas. Yang seharusnya
Rp 2.000,- menjadi Rp 2.500,-. Mungkin hal seperti itu sudah menjadi tradisi di sini. Penumpang yang
lain pun tidak pernah protes saat diperlakukan hal yang sama. Beberapa
menit kemudian ia bertemu Rahmat, temannya di Fakultas Ekonomi.
“Gimana kabarmu, Mat?”
tanya Doni.
“Alhamdulillah.
Kau gak
pergi, Don?”
tanyanya balik.
“pergi
ke mana?” ucapnya penuh tanya.
“Ke walimahan-nya
Cindy. Minggu lalu si Cindy dilamar sama teman SMA-nya di Linggau.” Jelasnya.
“Cindy
yang mana?” kepala Doni penuh tanda Tanya. Berharap Cindy yang dia maksud
bukanlah Cindy yang dia kenal.
“Cindy,
anak Ekonomi yang dulu ikut rapat P2K
di sekretariat BEM-U.” Jelasnya lagi.
“Hah!!”
mendengar itu hati Doni seakan-akan meledak tersambar petir.
Nasib… Nasib… Dah keduluan orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar