Rabu, 04 Januari 2012

Kalau Jodoh Takkan Kemana



“Don, penerimaan mahasiswa baru kan dua bulan lagi, gimana kalau kau saja yang jadi ketua panitianya?” Usul Agung kepada Doni.
            “What?! Yang benar saja, Gung. Gak bisa gitu dong! Musti dirapatkan dulu dengan yang lain.” Balasnya.
            “Yang lainnya tuh sudah setuju semua. Kalau ingin dirapatkan hasilnya sama saja. Kau tulah yang jadi ketuonya.” Lanjut Agung.
            “Hmm... yang begini nih yang namanya cari ribut. Nantilah aku pikir-pikir dulu.” Ujarnya.
            “Maaf. Mas, mau pesen apa?” tanya seorang pelayan kantin yang datang menghampiri Doni.
            “Pesanlah, Don! Aku yang bayar.” Ucap Agung pada Doni yang bingung mau makan apa.
            “O.. aku ngerti. Kau mau suap aku pakai makanan ya, biar aku mau jadi ketua panitia?” terka Doni sambil manggut-manggut.
      “Jangan su’udzon dulu. Duit beasiswa sudah turun. Kau pesanlah! Aku yang bayar.” Sanggahnya.
            “Yang benar, Gung? Kalau begitu nanti habis kita makan antarkan aku ke Bank. Nge-check duit beasiswa aku ya.”

***
           
            Pagi telah menjelang. Jam dinding di kamar Doni menunjukkan pukul 06.15. Suara ibu penjual burgo sangat jelas terdengar. Setiap pagi ibu Nanik sudah berkeliling komplek untuk menjual burgo buatannya. Meskipun penghasilannya pas-pasan, bu Nanik tetap bersyukur bisa membiayai anak-anaknya sekolah.
            Kuliah masih 2 jam lagi. Gak ada tugas juga. Hmm... baca novel ah.
           Tik tok tik tok.... detik demi detik telah berlalu. Lembar demi lembar novel pun telah terlewati. Handphone Doni berdering, tertanda pesan dari Agung.
            Lagi dimana, Boy? Gak kuliah? Jangan lupa bawa buku kalkulus aku ya.
           
Mata doni langsung tertuju pada jam di handphone-nya. Waduh! Sudah jam setengah sembilan. Mana belum mandi lagiDengan  segera  ia melempar handphone yang di genggamnya ke atas tempat tidur dan langsung meraih handuk yang menggantung di dinding kamarnya.

            Kkrrrrr... suara perutnya ikut menggangu, menambah beban  pikirannya. Jiah! Ni perut ikut-ikutan protes. Gak tau apa aku lagi buru-buru.

            Makan tuh novel! Tiba-tiba muncul suara dalam pikirannya yang sedang kacau. Seolah-olah meledeknya penuh tawa.

            Aaarrrgggghhhhhhh!!!



***



            Hari ini seluruh panitia P2K (Pekan Pengenalan Kampus) diminta berkumpul di sekretariat BEM Universitas untuk membahas metode saat penerimaan mahasiswa baru berlangsung. Doni datang paling pertama ditemani Agung dan beberapa jajarannya di BEM FMIPA.

            “Katonya rapat mulai jam setengah dua, Sudah hampir jam dua rapat belum dimulai-mulai juga.” Agung mulai resah menunggu.

           “Sabar, Gung! Kita masih menunggu panitia dari FKIP dan FE.” Doni berusaha menenangkan hati Agung.

            “Gimana Indonesia mau maju, pemudanya saja sering ngaret.” Agung makin geram.

            Tak lama kemudian yang ditunggu-tunggu datang. Pandangan Doni tiba-tiba saja tersandung saat melihat wanita berjilbab merah jambu datang bersama rombongan panitia dari Fakultas Ekonomi. Doni terpesona melihat parasnya yang anggun dengan jilbabnya yang lebar.

Rapat pun dimulai. Sebelum membahas agenda, rapat diawali dengan perkenalan panitia dari seluruh fakultas. Dan akhirnya yang dinantikan Doni pun tiba, yaitu perkenalan panitia dari Fakultas Ekonomi. Tak disangka Doni ternyata yang memulai perkenanalan adalah si wanita berjilbab merah jambu.

“Sebelumnya,  saya  ingin   menyampaikan  maaf   dari   ketua  panitia   Fakultas Ekonomi yang berhalangan hadir karena harus kuliah. Nama saya Cindy, menjabat sebagai sekretaris panitia.”
Rapat berlangsung selama dua jam. Dari rapat tersebut diumumkan bahwa penerimaan mahasiswa baru untuk Fakultas MIPA dan Fakultas Ekonomi dilakukan pada  hari  yang  sama.  Itu  membuat  Doni  semakin  senang  karena  bisa bertemu lagi

dengan Cindy.

            “Gung, liburan besok aku gak jadi mudik ke Muara Enim. Aku mau serius ngurus P2K.” Ucap Doni kepada Agung sepulangnya dari rapat P2K.

            “Tumben. Biasonya kalau soal mudik kau yang paling duluan.” Agung heran dengan ucapan Doni.

            “Aku kan ketua panitia. Masak yang lain sibuk rapat aku malah asyik-asyik mudik ke Muara Enim. P2K tahun ini musti lebih meriah daripada yang lalu-lalu.” Terangnya.

            “Bagus deh.” Jawab Agung.



***



            “Berapa, Mang?” tanya seorang wanita berjilbab kepada penjaga warnet.

            “lima ribu, Dek.” Jawab penjaga warnet tersebut.

        “Cindy?” tanya Doni pada wanita berjilbab itu yang berdiri di sampingnya. Mendengar suaranya dia yakin kalau wanita tersebut adalah Cindy.

            “Ya. Ada apa kak?” Jawab wanita itu yang ternyata benar adalah Cindy.

            Jantung Doni berdetak tak karuan. Waktu seakan berjalan sangat lambat. Mukanya memerah. Baginya ini seperti mimpi, bisa mengobrol langsung dengan Cindy.

            “O... gak apa-apa. Habis ngenet ya?” tanyanya lagi.

            “Iya, kak. Kakak sendiri?” Cindy balik bertanya.

            “Ini, lagi nge-print proposal P2K. Oya, gimana dengan persiapan P2K di Fakultas Ekonomi, sudah siap?” tanya Doni lagi.

Insya Allah.” Jawab Cindy sambil mengorek isi dompetnya.

“Cindy duluan ya kak. Assalamu’alaikum.” Cindy pun pergi setelah menyerahkan selembar uang lima ribu rupiah kepada penjaga warnet.

Melihatnya pergi, Doni merasa sedikit menyesal karena ia tak sempat mengobrol panjang. Walaupun begitu ia tetap bahagia bisa bertatap muka dengannya. 
        Semenjak pertemuan singkat itu, hati Doni semakin berbunga-bunga. Tak jarang ia menyanyikan lagu cinta di kamarnya.  Lagu favoritnya Another day in paradise buah karya Phil Collins tidak pernah absen dari kuping tetangganya. Sudah kayak minum obat, itu lagu dinyanyikannya tiga kali sehari.
            oh, think twice

            it’s just another day for you and me in paradise

            oh, think twice

            it’s just another day for you, you and me in paradise



***



            Kampus nampak hening dari biasanya. Tidak sedikit kantin yang tutup. Angkutan kampus pun hanya segelintir yang hilir mudik. Ya, namanya juga lagi masa liburan. Hanya mahasiswa yang mau ikut kuliah semester pendek saja yang masih aktif di kampus. Terkecuali para panitia P2K yang sibuk memikirkan mahasiswa baru.

            “Gung, sabtu besok mau gak temani aku ke masjid Agung pesan spanduk?” tanya Doni berharap Agung mau mengantar dengan motornya.

            “Sorry, Don. Sabtu besok aku mau servis motorku di bengkel. Kau ajak saja si Agus.” Jawab Agung dengan nada kecewa.

            Hmm... si Agus kan gak punya motor. Maksud aku kan biar irit kalau naik motor sama kau, Gung.

            “Yasudahlah kalau begitu.” Ucapnya dengan lapang dada.

            Siang ini Doni ingin pergi ke Palembang. Agar lebih hemat, kali ini dia memilih naik kereta kampus. Bis kampus yang menuju stasiun sudah penuh. Karena ini adalah bis terakhir ke stasiun, dia terpaksa berdiri di pintu bis. Setibanya di stasiun kampus, seluruh penumpang berebut kursi kereta. Doni pun tidak mau ketinggalan.

Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya kereta pun sampai di stasiun Kertapati. Keluarnya dari gerbong, tak sengaja Doni melihat Cindy bersama keluarganya. Tak seberapa lama, seorang lelaki datang memberikan ice cream kepada Cindy. Doni tersentak saat melihat Cindy menyuapi ice cream-nya pada lelaki itu. Akan tetapi Doni tak menghiraukannya. Dia beranggapan bahwa lelaki itu adalah kakaknya Cindy, karena saat itu dia sedang bersama keluarganya.



***
            Sepertinya aku salah pilih bis lagi. Doni mulai resah saat bis tersebut menyalakan music. Seperti layaknya sebuah diskotik, bis yang dinaikinya memutar musik ajep-ajep. Lagu yang diputar beraliran dangdut koplo yang sangat Doni benci. Tetapi apa boleh buat. Sudah hampir setengah perjalanan yang telah dilalui. Ongkos pun sudah dibayar. Doni pasrah menerima nasibnya.

            Spanduk telah dipesan. Doni kembali menghitung sisa uangnya. Yah, gak ada uang pas. Terpaksa deh musti jajan dulu. Banyak bis kota di palembang sering melebihkan ongkos penumpang saat para penumpang tidak membayar dengan uang pas. Yang seharusnya Rp 2.000,- menjadi Rp 2.500,-. Mungkin hal seperti itu sudah menjadi tradisi di sini. Penumpang yang lain pun tidak pernah protes saat diperlakukan hal yang sama. Beberapa menit kemudian ia bertemu Rahmat, temannya di Fakultas Ekonomi.

            “Gimana kabarmu, Mat?” tanya Doni.

            “Alhamdulillah. Kau gak  pergi, Don?” tanyanya balik.

            “pergi ke mana?” ucapnya penuh tanya.

“Ke walimahan-nya Cindy. Minggu lalu si Cindy dilamar sama teman SMA-nya di Linggau.” Jelasnya.

“Cindy yang mana?” kepala Doni penuh tanda Tanya. Berharap Cindy yang dia maksud bukanlah Cindy yang dia kenal.

“Cindy, anak Ekonomi yang dulu ikut rapat P2K di sekretariat BEM-U.” Jelasnya lagi.

“Hah!!” mendengar itu hati Doni seakan-akan meledak tersambar petir.

Nasib… Nasib… Dah keduluan orang.





*Burgo, hidangan khas asal Palembang selain pempek, tekwan, atau pindang patin. Terbuat dari tepung beras dengan siraman kuah santan kental gurih



Tidak ada komentar:

Posting Komentar